Gerakan Open Akses

Oleh: Suharto

Tulisan singkat ini terinspirasi oleh kedatangan  Dr Tom Olijhoek, Editor-in-Chief DOAJ yang bersemangat  bertemu para kolega di Indonesia dan pejabat yang berurusan dengan karya ilmiah,  terkait prinsip open akses yang dimiliki DOAJ, yang berbeda dengan lembaga pengindeks internasional yang lain. Saya juga teringat dengan Hari Hak untuk Tahu International (International Right to Know Day) yang jatuh pada tanggal 28 September yang mengingatkan saya pada seorang aktivis internet Aaron Swartz. Anak muda jenius ini sebelumnya adalah seorang programmer internet, peneliti, yang sudah berkolaborasi dengan para expert di dunia akademis sejak umur 14 tahun sebelum akhirnya menjadi aktivis internet.  Ia mulai gelisah melihat ketidakadilan yang terjadi di sekitarnya dan di seluruh dunia terutama berhubungan dengan hak publik  untuk mendapatkan informasi. Salah satu pernyataannya yang cukup terkenal adalah “Information is power. But like all power, there are those who want to keep it for themselves”. Baca lebih lanjut

Iklan

India leads in Gold Open Access Publishing – fake or genuine?

News Service

This is a guest post by Leena Shah, DOAJ Ambassador, India.

CroppedImage_LeenaIt is interesting to note that since the introduction of new criteria for DOAJ listing in March 2014, we have received the highest number of new applications from Open Access journal publishers in India, followed by those in Indonesia, USA, Brazil and Iran. From around 1600 new applications received from India since March 2014 only 4% were accepted, with 78% of the applications rejected for various reasons and approximately 18% still in process.

Looking at the high volume of new applications from OA publishers wanting to be listed in DOAJ, it would seem that the Gold OA publishing model is well accepted and understood in India. But three quarters of the DOAJ applications from India in the last three years have been rejected – often for being questionable, duplicate applications or for not being a journal at all!…

Lihat pos aslinya 713 kata lagi

Unnes Selenggarakan Sinden Idol 3

sinden-idolUniversitas Negeri Semarang (UNNES) kembali menyelenggarakan ajang pencarian bakat sinden muda berbakat melalui Sinden Idol. Audisi bakal diselenggarakan di Kampung budaya UNNES kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, pada Selasa 13 Desember 2016. Final diselenggarakan Minggu, 18 Desember 2016, di tempat yang sama.

Seperti penyelenggaraan  tahun sebelumnya, penyelenggaraan untuk kali ketiga ini terbuka untuk umum. Peserta disyaratkan berusia 13-27 tahun dan berkewarganegaraan Indonesia. Peserta membayar kontribusi pendaftaran sebesar Rp 50.000. Dari tahap audisi, bakal dipilih sebanyak 10 sinden yang bakal maju dalam ajang final.

Materi untuk audisi, peserta diwajibkan nembang dan/atau mempraktikkan teknik sindenan. Selain itu, peserta audisi juga mesti menjawab pertanyaan mengenai pengetahuan seputar dunia kesindenan. Sebab, ajang ini tidak hanya diharapkan mampu menghasilkan sinden muda berbakat, namun juga sinden yang memiliki pengetahuan cukup sehingga mampu menjadi panutan, baik dari sisi kemampuan maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Sinden Idol, di sisi lain, diharapkan menjadi barometer sinden muda berbakat sekaligus mengajak sinden agar mampu menanamkan nilai luhur budaya Jawa melalui keterampilan berolah seni dan kehidupan bermasyarakat.

Sinden Idol kali pertama diselenggarakan UNNES pada 2012, diikuti oleh ratusan peserta. Pada penyelenggaraan pertama ini, Lina Rohmiyati, pesinden asal Wonogiri, meraih juara I. Pada Sinden Idol kedua, pada 2014, alumnus UNNES Dhesy Purnawati meraih juara I. selain Dhesy, Suci Ofita Dewi juga meraih juara I.

Pendaftaran Sinden Idol 3 bisa dilakukan melalui Mulat Sari Menur di nomor telepon 082225269327, atau datang ke sekretariat di Kampung Budaya UNNES, kampus Sekaran, Gunungpati, Kota Semarang.

Mari jadi idola selanjutnya!

(Sumber:https://unnes.ac.id/pengumuman/pendaftaran-audisi-sinden-idol-3-unnes-dibuka/)

Open Access Journals Strategy in Algeria

News Service

This is a guest post by Kamel Belhamel, DOAJ Ambassador, North Africa

algeriaThe importance of Open Access (OA) was recently recognised by Algerian scientists, libraries and publishers. Until recently, Algerian researchers preferred to publish their papers in European journals with an impact factor, in order to achieve certain personal goals (e.g. better career opportunities and advancement, CV fortification, etc.), however the Western system of scholarly publishing often stigmatizes developing country research as local rather than international.

One of the most important OA journal promoters in Algeria at this time is DGRSDT (National Council of Scientific Research and Technology of Algeria). Since 2015, the DGRSDT has organised workshops and supports Algerian editors in the implementation of open science. Many of those editors don’t have the experience of ensuring the quality and the transparency of the editorial process. Out of 359 Algerian scientific journals listed by the DGRSDT, only 7 are…

Lihat pos aslinya 357 kata lagi