Memperjuangkan Keanekaragaman Budaya di Era Globalisasi

art under presureDireview oleh Suharto

Judul: Arts Under Pressure: Promoting Culture Diversity in the Age of Glo-balisation
Pengarang : Joost Smiers
Tebal Buku : 436 halaman
Penerbit : Insist Press Yogyakarta
Tahun Terbit : 2009


1. Deskripsi dan Substansi

Buku ini merupakan telaah kekuatan-kekuatan di balik hasil keputusan dalam persoaalan budaya di seluruh dunia khususnya di bidang seni di bawah pengaruh globalisasi ekonomi. Buku yang merupakan hasil penelitian penulisnya sendiri ini memuat ratusan contoh praktik-praktik budaya yang diambil dari semua bidang seni di seluruh penjuru dunia dengan menggunakan teori kritik yang solid.
Buku ini berfokus pada penciptaan, produksi, distribusi, promosi, pencerapan, dan pengaruhnya. Bahasannya mempersoalan masalah-masalah mulai dari siapa yang memiliki kekuasaaan untuk sampai ke audiens, kualitas, muatan, sampai pada atmosfirnya. Buku ini menyangkal tentang eksistensi “alamiah” dari budaya massa dan memperlihatkan bahwa yang sebenarnya ada adalah kreasi-kreasi artistik yang diproduksi, didistribusikan, dan dipromosikan pada skala massal. Skala besar-besaran ini memusnahkan publik pada keragaman yang menurut perspektif demokratis mutlak oleh masyarakat manapun. Smiers juga memperlihatkan bahwa negara harus melepaskan dari cengkeraman WTO dan memandatangani sebuah Konvensi International tentang Keanekaragaman Budaya yang baru. Konvensi ini akan memberi hak penuh pada negara untuk mengambil semua langkah dan cara yang diperlukan guna mereduksi dominasi pasar yang digenggam industri budaya secara signifikan dan untuk merumuskan kebijakan-kebijakan kebudayaannya sendiri (halaman v-vi).

2. Bagian-bagian Isi Buku
Buku setebal 436 halaman ini secara umum terbagi atas dua bagian. Bagian I membahas tentang ekspresi artistic dalam dunia korporasi. Bagian ini terbagi lagi atas 5 bab yang membahas topik-topik: (1) Seni Dunia, (2) Kuasa untuk memutuskan, (3) Orisinalitas yang Meragukan, (4) Kehidupan Artistik Lokal, dan (5) Budaya yang Digerakan Korporasi.
Pada bagian 2, Smiers membagi dalam 6 bab yaitu tentang: (1) Menyeimbangkan Perdagangan dengan Budaya, (2) Regulasi Mendukung Keanekaragaman Budaya, (3) Kebijakan-kebijakan Budaya, (4) membayangkan Dunia tanpa hak Cipta, (5) Warisan Budaya Kita, dan (6) Kebebasan Berpendapat Versus Tanggung Jawab. Buku ini ditutup dengan epilog yang berjudul Semua yang berharga tidak mampu Bertahan.

3. Fenomena dalam Art Underpressure
Apa yang ditulis dalam buku ini berisi fakta-fakta yang terjadi yang menyangkut tentang kehidupan seni  dan budaya lokal yang ada di belahan dunia terutama seni-seni lokal atau tradisi yang keadaanya terjepit karena terus menerus dipinggirkan oleh globalisasi ekonomi.
Hegemoni ekonomi yang dilakukan oleh negara kapitalis terjadi di segala bidang termasuk bidang budaya. Sistem ekonomi global telah menciptakan WTO yang membelenggu negara non-Barat terpaksa bertekuk lutut mematuhinya. Penguasaan ekonomi global terus menciptakan seni-seni yang “memabukan” yang bersifat masiv sehingga seni lokal, produser seni yang kecil, seniman lokal secara pasti akan mati kalah bersaing dengan yang bermodal besar dan lebih menarik. Dengan bantuan penguasaan media yang terus menerus menggempur dan mencekoki masyarakat dunia mempercepat proses peminggiran budaya lokal tersebut. Bagi dunia Barat keberagaman adalah sesuatu yang tabu. Itulah sebabnya negara-negara pendukung sistem ini seperti Amerika dan Inggris segera hengkang dari UNESCO ketika organisasi dunia ini menyetujui Konvensi tentang Perlindungan dan Pengembangan keanekaragaman Muatan Kebudayaan dan Ekspresi Artistik pada tahun 2005.
Fakta-fakta yang kita ketahui memang sedemikian adanya. Smiers merujuk pada apa yang terjadi pada blantika perfilman kita. Dia menulis, ‘’Pada masa kejayaannya, Indonesia, memproduksi 100 film dalam setahun. Kini (1991) dipercaya industri perfilmannya sekarat. Produksi lokal dilaporkan meluncur jatuh dari 119 film di tahun 1990 menjadi 60 saja di tahun 1991, hingga akhirnya menjadi 12 saja pada bulan September 1992. Satu alasannya adalah daya tarik film layar lebar Amerika terhadap orangIndonesia.’’ (halaman 154 )
Smiers menyebutkan keserakahan industri film Amerika (dalam hal ini diwakili oleh Motion Picture Export Associate) yang mendorong Carla Hill, Ketua Perwakilan Dagang Amerika Serikat, untuk mendesakkan pasar lebih luas lagi bagi produksi film Hollywood. Ternyata ‘’Jakarta bertekuk lutut”. Pada bulan Mei, Indonesia memberi akses lebih besar kepada industri film Amerika Serikat sebagai barter atas kenaikan kuota Amerika Serikat untuk produser tekstil Indonesia menjadi sebesar 35 persen.’’
Yang terjadi dengan dunia rekaman musik tidak jauh beberda apalagi dengan sistem Hak Cipta menyebabkan dunia Barat yang menciptakan sistem ini dan menguasai ekonomi global mengeruk keuntungan dari lagu-lagu yang diproduksi di Indonesia tanpa ada batasan kapan selesai waktunya. Sementara itu sistem Hak Cipta menurut Smiers di negara Dunia non Barat tidak berarti bagi para seniman, pencipta seni, bahkan hanya membatasi kreativitas. Sebaliknya bagi dunia Barat, sulit membayangkan sebuah dunia tanpa hak cipta, dan bagi dunia non-Barat mungkin tidak terlalu sulit sulit membayangkannya (halaman 324). Sistem ini menurut Smiers secara mendasar sebenarnya lebih menguntungkan para konglomerasi budaya daripada kebanyakan seniman. Para konglomerasi budaya telah mengontrol sebagian besar dari hak cipta seluruh dunia.
4. Membangun Ideologi Budaya yang Kuat untuk Menangkal Ideologi Liberal
Pernyataan bahwa globalisasi itu berarti kemajuan, pendidikan, kesejahteraan dan modernisasi ekonomi telah mencekoki kita. Sayangnya, semua itu hanya setengah dari kisah semuanya. Globalisasi memang menghadirkan investasi dan teknologi industri, namun juga menggelontorkan kekacauan sosial dan politik, kehancuran infrastruktur budaya dan keruntuhan industri dan pertanian lokal yang tak bisa berkompetisi dengan modal besar investasi.
Globalisasi ternyata semakin meluluhlantakkan banyak aspek karena sejak awal ia telah bergandengan tangan dan memperkuat korporasi internasional yang mengusir bisnis-bisnis lokal keluar gelanggang dan memindahkan operasinya secara konstan, dan menyisakan kehancuran ekonomi di tempat yang ditinggalkannya. Berbagai hal seperti deregulasi, swastanisasi, liberasi yang muncul seiring globalisasi memindahtangankan perekonomian kepada korporasi-korporasi multinasional (Suara Merdeka.com, 07 Juni 2009).
Negara-negara Barat yang telah menguasai sains telah menciptakan ideologi yaitu ideologi liberal dengan sistem ekonomi kapitalisnya. Watak kapitalis seperti halnya watak sains yang lugas, apa adanya dan rasional ini, diakui tidak sedikit telah melahirkan krisis nilai-nilai kemanusiaan. Lagi-lagi Sang Adidaya, yang dengan keadidayaannya dan berkat penguasaan sains dan teknologinya walaupun hasil dari memperdaya negara lain, dengan sengaja menciptakan ‘horor’ di masyarakat dunia. Dengan dalih kebebasan, HAM, demokrasi, ia menciptakan dirinya sebagai ‘polisi dunia’. Lalu, dengan ‘kewenangannya’ melakukan ‘operasi-operasi’ kepolisiannya di seluruh dunia termasuk menciptakan sistem perdagangan baru, WTO. Sementara organisasi budaya yang yang mengatur kehumanismean, UNESCO, dihindari. Akibatnya, dengan standar ganda politiknya ia menyebar ancaman sampai pada kegiatan represif kepada negara yang inferior. Hasilnya, ujung-ujungnya adalah penerapan paham pragmatisnya dan dengan ‘segala cara’ mengusai politik dan ekonomi negara yang menjadi targetnya. Jika demikian, maka rusaklah tatanan dunia sekaligus peradabannya. Contoh nyata dari hal ini adalah kerusakan peradaban dunia di Irak setelah Amerika menginvasinya. Peradaban Islam baik berupa simbol-simbol kebesaran bangsa Irak dan peradaban budaya manusia hancur karenanya.
Contoh lain yang terjadi di Indonesia adalah lahirnya bentuk-bentuk ideologi lain dapat mengarahkan kepada jurang kehancuran masa depan manusia. Dengan bergabung mengakui dan mematuhi aturan WTO dan membuka investasi bagi dunia Barat artinya kita welcome Dengan sistem ideologi mereka. Secara langsung juga kita sebenarnya memasuki ideologi mereka, liberal dengan embel-embel sistem ekonomi kapitalis juga dan tentu saja dengan watak ideologi yang menyertainya. Kerusakan ekologi pada kita adalah akibat dari watak sains yang pragmatis itu yang melihat lingkungan dari jauh, tak melihat lebih dekat tentang hakikat alam seperti halnya seni, misalnya. Sebuah hegemoni liberal yang notabene telah menguasai dunia saat ini telah merambah ke seluruh dunia dengan menyebarkan ‘angin surga’. Sebuah contoh nyata adalah eskploitasi alam oleh kaum liberal dan paham liberalismenya yang dengan mudahnya membuat bopeng-bopeng di Bumi Cendrawasih. Iming-iming keuntungan yang didapatkan tidak sebanding dengan kerusakan dan penderitaan yang diakibatkannya. Kemajuan dan keahlian sains dan korporasi yang diciptakan sang pemilik ideologi asing ini telah membius dengan senjata ’rasionalitasnya’ mampu membius bangsa Indonesia yang telah memiliki ideologi sendiri yang membumi dan terlena melupakan dan melanggar ideologinya sendiri. Budaya luhur termasuk seni tradisi yang mengandung local genius diabaikan akibat tersingkir dan tak mampu bersaing. Akibatnya, kehancuranlah yang bisa kita dapatkan di masa-masa mendatang jika tidak tersadar dari ‘hipnotis’ kaum kapitalis yang liberalisme ini.
Buku ini seharusnya menjadi penyadar dan pembangkit semangat bagi bangsa Indonesia. Smiers sebagai penulis yang notabene berasal dari dunia yang menciptakan ideologi kapitalis ini patut dihargai. Bentuk kepedulian yang berupa buku ini perlu direnungkan kembali bagi kita pelaku seni, pendidik seni, penentu kebijakan, pembuat regulasi budaya. Perenungan ini pun semetinya segera diemplementasikan dengan tindakan-tindakan seperti konservasi budaya, seleksi budaya luar secara selektif, membuat regulasi yang menjamin keberlangsungan keragaman budaya bangsa yang tidak bisa terelakan.
Kita melihat bagaimana sistem Amerika dengan enaknya mencomot elemen-elemen ‘eksotik’ budaya mancanegara dan membaurkan sesukanya dengan keinginan mereka tanpa peduli dengan identitas budaya bangsa lain. Dalam buku ini, Smiers menyajikan sejumlah fakta yang terjadi atas berbagai kebudayaan di berbagai belahan dunia yang terpinggirkan akibat globalisasi, dengan kekuatan modal yang hadir sebagai sebuah topeng ramah bagi sebuah perbudakan budaya masa kini.
Sebelumnya kita masih percaya pada fakta bahwa di seluruh dunia berkembang penghormatan bagi bentuk seni tradisional, budaya rakyat dan bentuk-bentuk kesenian dari negara non-Barat hidup dan berkembang dalam artefak budaya masing-masing. Kini, kemunculan kapitalisme konsumen melalui konglomerasi budaya telah memperlebar jurang antara kehidupan sehari-hari dengan proses kreasi artistik, yang membuat inti budaya tradisional nyaris tak ada lagi. Dengan keluarnya Amereka dan pendukungnya dari Unesco yang mendukung konvensi perlindungan dan pengembangan keanekaragaman ekspresi budaya sebagai buklti nyata tentang hal ini.
Kekuatan modal global Amerika secara tak kentara telah menggerus kekuatan budaya lokal dunia, lalu menjadikan jalan masuk bagi keuntungan ekonomi-sosial-budaya mereka tampak jelas pada beberapa contoh kasus yang dipaparkan Smiers dalam buku ini. Pesan budaya yang selama ini disampaikan melalui apa yang disebut sebagai world music (istilah bagi berbagai jenis musik etnis di dunia) adalah sederhana saja: keragaman musikal. Namun istilah world music ini telah digunakan menjadi label pemasaran komersial, yang merujuk pada sembarang musik yang tersaji secara komersial dari sumber musik yang non-Barat, serta merujuk bagi semua musik etnik yang penyajian, warna dan gaya musikalnya sudah disesuaikan dengan ‘telinga komersial’. Tragedi yang terpendam oleh kilau globalisasi inilah yang oleh Smiers disebut sebagai ‘’keanekaragaman hancur kurang dari satu dasawarsa’’ (Heru Emka, Suara Merdeka 07Juni 2009).
Konglomerasi budaya memandulkan proses penciptaan karya seni lokal. Serangkaian pesan yang dikemas secara estetis dan menampilkan keindahan mendorong masyarakat melupakan budaya lokal dan menjauh dari realitas kehidupan. Berbagai cara dilakukan korporasi budaya untuk meyakinkan karya budaya yang mereka sajikan adalah karya terbaik. Kenyataan ini membuat kebudayaan rakyat kalah ketika dibawa ke arena korporasi. Budaya lokal suatu komunitas dianggap tidak menarik bagi komunitas lain. Globalisasi ekonomi tidak menjamin selamatnya warisan kebudayaan yang seharusnya menjadi warisan kita.
Keberadaan buku ini penting bagi kita untuk mengingatkan ancaman-ancaman yang setiap saat siap menghabisi karya seni. Sekali lagi, buku ini membawa kita pada kesadaran pentingnya mencegah kepentingan ekonomi agar tidak lebih jauh menguasai keberadaan karya seni.

5. Kelebihan dan Kekurangan
Harus diakui bahwa buku ini memiliki beberapa kelebihan antar lain.

  1.  Fakta-fakta yang dipaparkan dalam buku diakui cukup akurat dengan Keadaan dan fenomena-fenomena yang ada saat ini termasuk dengan fakta yang ada di Indonesia.
  2.  Pembahasa dari fakta ini cukup memikat untuk dibaca dan disimak karena sebelumnya penulis telah memaparkan metode pengambilan data-data di lapangan yang cukup dapat dipercaya sehingga cukup meyakinkan pembaca.
  3.  Buku ini membahas fenomena yang bersifat kekinian yang terjadi pada masyarakat pembaca sendiri sehingg menarik untuk dibaca.
  4.  Isi buku ini dapat menggugah dan menginspirasi pembaca untuk memberi sikap, penilaian, dan mungkin tindakan baik yang sependapat maupun yang tidak sependapat dengan penulisnya.
  5.  Terlihat penulis melakukan pelaporan secara jujur yang ditunjukan dengan sikapnya dalam tulisan yang memihak pada negara non-Barat yang menjadi korban akibat sistem kapitalis yang nota bene dianut oleh bangsanya sendiri. Mungkin ini disebabkan penulis sendiri berdasarkan dalam buku ini, secara jelas dan eksplisit, berideologi sama dengan “Si Korban” itu sendiri atau kita sebagai pembaca yang menentang ideologi itu.
  6.  Penulis cukup memberi solusi terutama dalam isu sistem hak cipta dengan memberi beberapa alternatif seperti membatasi jangka waktu hak cipta yang hanya 10 tahun selanjutnya menjadi milik publik agar mudah diakses dan diekspresikan secara bebas sehingga seni utama seni lokal suatu negara tetap menjadi milik publik dan bebas diekspresikan. Agar para seniman bisa eksis mestinya mau menyikapi kemajuan teknologi yang ada dan mengakrabinya jangan hanya mengandalkan hak cipta yang pernah dimiliki misalnya dengan mendekatkan diri pada audiens, menperbaiki cover CD, memperbanyak show dan sebagainya.

Di samping kelebihan ada beberapa kekurangan dalam yang dilakukan oleh penulis sehubungan dengan sikap atau ideologinya. Penulis secara eksplisit banyak menyebutkan tentang keterlibatan emosional mendukung betapa negara-negara non_Barat cukup dirugikan dan menginginkan segera diakhiri yang diakibatkan sistem kapitalis ekonomi yang meminggirkan kebudayaan lokal negara-negara korban kapitalis. Point of view penulis pun banyak menggunakan orang pertama yaitu kata ‘kita’ yang artinya ‘kau dan aku’ untuk menununjukkan dukungannya. Bahkan kata ‘saya’ digunakan secara jelas baik pada pengantar buku ini yang terdiri dari 8 halaman yang menggunakan point of view orang pertama, kata ‘aku’, terutama saat mkenjelaskan hambatan-hambatan dalam penggunaan metode penelitiannya.
Sangat disayangkan penulis masih menyembunyikan ideologi negara yang dianutnya. Sikap pembelaan yang tersamar ditunjukan dengan tidak mengulas secara mendalam motif lain penyerangan dan penghancuran peradaban budaya oleh Amerika di negara-negara Islam seperti Irak dan Afganistan. Padahal secara eksplisit memaparkan data penghancurannya dan menyinggung bahwa penghancuran itu agar tidak ada lagi orang mengenang tentang kejayaan peradaban bangsa tersebut. Pelenyapan warisan budaya mendadak lenyap bisa karena agar tidak ada himbauan tentang penyelamatan kekayaan budaya ini yang disebarluaskan selama pemboman berlangsung karena seruan ini akan membuat serangan pemboman hampir tidak mungkin dilakukan (halaman 354). Ini menunjukan ada hal lain yang ingin dijelaskan bahwa kenangan tersebut adalah tentang kejayaan suatu budaya Islam bangsa penganutnya di masa lalu. Mungkin juga karena penerjemahan buku ini kurang cermat dalam memaknai teks aslinya sehingga kurang bisa dipahami makna sebenarnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s