Sudah Lebih dari 133 Jurnal Indonesia Terindeks DOAJ

Sampai tanggal 9 Mei 2015 sudah 133 jurnal Indonesia yang terindeks di Directory of Open Access Journals (DOAJ).  Ini berarti sudah tertinggi di Asean. Masih puluhan jurnal yang masih antri menunggu hasil review oleh para editor yang direkrut oleh DOAJ.  Hal yang membanggakan adalah peningkatan penerbitan  jurnal-jurnal di Indonesia, baik secara kualitas maupun kuantitas.

Sejak 2014 DOAJ menerapkan kriteria baru yang cukup  menjamin bahwa jurnal-jurnal yang terindeks memiliki kualitas yang baik. 54 poin pertanyaan  dalam aplikasi untuk bisa dimasukan dalam DOAJ akan menjadikan jurnal-jurnal itu lebih transparan, jujur, terbuka dalam proses review artikel-artikenya, terjamin hak akses baik penulis maupun penggunanya. Sebuah bukti  bahwa sangat ketatnya kriteria ini adalah dari 37 aplikasi yang diterima salah satu grup reviewer DOAJ, baru 11 jurnal yang  bisa diindeks (accepted), sebagian langsung di-reject, dan sebagian masih proses revisi. Yang 11 jurnal ini umumnya sudah terakreditasi DIKTI dan ada juga yang sudah masuk jurnal Internasional berepustasi. Gambaran Jurnal Perguruan Tinggi yang sudah terindkes di DOAJ per-9 Mei 2015 adalah sebagai berikut. DOAJ PPTMasih ada jurnal-jurnal lain dari PT maupun lembaga yang tidak terulis di atas yang jumlahnya rata-rata 1 buah.  Awal bulan ini DOAJ merilis pengakuan 50 lembaga penelitian terkemuka Eropa tentang keterbukaan dan kualitas jurnal terutama tentang providing payments/subsidies for Open Access venues. Ini menempatkan DOAJ di Eropa setingkat dengan lembaga pengindeks dunia lainnya. Prinsip pertama menyatakan bahwa “journals must be listed in DOAJ, Web of Science, Scopus or PubMed,  The new principles adopted by Science Europe aim at setting minimum standards for Open Access publishing services provided by scholarly publishers”. Bagaimana dengan pengakuan di Indonesia. Sudah lumayan. Menurut aturan kenaikan kepangkatan dosen yang terbaru, jurnal yang tidak terakreditasi DIKTI tetapi terindeks di DOAJ akan mendapat bonus 5 menjadi 15. Jurnal yang berbahasa Inggris tetapi belum terindeks di Scopus, ISI-Thomson, dan MAS dianggap jurnal internasional tidak bereputasi dengan dihargai Kum 20. Tetapi saya yakin, suatu saat DIKTI mungkin akan menyesuaikan seperti halnya Science Europe. Sehingga paling tidak jurnal Indonesia yang sudah terindeks di DOAJ akan mendapat poin 30, karena termasuk jurnal internasional bereputasi.

Saat ini DIKTI masih silau dengan kriteria impact factor, indeks Scopus, dll. Alasan ini sementara  bisa diterima, saya juga setuju sambil menunggu DOAJ menunjukkan kehebatannya dalam berbagai hal, terutama yang sudah terindeks, karena masih banyak juga jurnal yang terindkes DOAJ yang belum mengajukan reaplikasi untuk menyesuaikan kriteria yang baru. Walaupun, jurnal-jurnal yang tidak memenuhi kriteria sebenarnya sudah di-remove dari daftar DOAJ beberapa tahun lalu. Kini, tinggal jurnal-jurnal yang memang telah memenuhi kriteria open access yang baik, baik kriteria  sebelum Maret 2014 maupun sesudah 2014.

(Suharto, Editor DOAJ)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s