Gerakan Open Akses

Oleh: Suharto

Tulisan singkat ini terinspirasi oleh kedatangan  Dr Tom Olijhoek, Editor-in-Chief DOAJ yang bersemangat  bertemu para kolega di Indonesia dan pejabat yang berurusan dengan karya ilmiah,  terkait prinsip open akses yang dimiliki DOAJ, yang berbeda dengan lembaga pengindeks internasional yang lain. Saya juga teringat dengan Hari Hak untuk Tahu International (International Right to Know Day) yang jatuh pada tanggal 28 September yang mengingatkan saya pada seorang aktivis internet Aaron Swartz. Anak muda jenius ini sebelumnya adalah seorang programmer internet, peneliti, yang sudah berkolaborasi dengan para expert di dunia akademis sejak umur 14 tahun sebelum akhirnya menjadi aktivis internet.  Ia mulai gelisah melihat ketidakadilan yang terjadi di sekitarnya dan di seluruh dunia terutama berhubungan dengan hak publik  untuk mendapatkan informasi. Salah satu pernyataannya yang cukup terkenal adalah “Information is power. But like all power, there are those who want to keep it for themselves”.

Pengetahuan yang seharusnya milik publik itu hanya dimililki oleh segelintir orang. Hanya orang yang mampu atau negara kaya saja yang mampu dan  bisa menggunakan ilmu pengetahuan itu. Sementara itu, negara-negara dunia ketiga yang tidak mampu berlangganan jurnal-jurnal tidak bisa menikmati hasil-hasil penelitian terbaru. Dan, ini terjadi terus menerus seolah tidak bisa dihentikan. Sayang, ia harus menjadi martir dengan mengakhiri hidupnya sendiri  dalam usia 26 tahun pada awal tahun 2013 karena tidak mampu menahan gejolak jiwanya dan melawan acaman  hukuman 35-50 tahun karena dituduh telah mengunduh secara ilegal 4 juta dokumen  dari  server JSTOR (Journal Storage).

Kasus yang berhubungan adalah tentang keteguhan Prof Suhardi dari UGM yang tidak mau mempatenkan hasil penelitian-penelitiannya. Ia merasa selama sekolah mendapat beasiswa dan semua penelitiannya dibiayai uang rakyat. Jadi, tidak pantas jika hasil karyanya diakui sebagai karya pribadi untuk kepentingan pribadi pula. Tentu sikap ini banyak mendapat pujian sekaligus tentangan karena mungkin bertolak belakang dengan kebijakan institusinya.

 

Efek Swartz

Kematiannya yang tragis telah menggagetkan para aktivis internet (digital rights activist)  termasuk pustakawan karena efeknya. Walaupun sebagian orang mengatakan bagaimana pun ia tetap pencuri, tetapi sebagian tak rela dan menganggap ia sebagai pahlawan, karena dokumen-dokumen artikel ilmiah yang itu ia unduh kemudian diunggahnya  kembali agar  bisa diakses publik secara gratis. Jurnalis senior Gunawan Muhammad bahkan menjulukinya  Prometheus, tokoh dalam mitologi Yunani yang mencuri api dari kungkungan para dewa dan membagikannya kepada manusia. Prometheus pun dihukum: dipancung di gunung karang agar burung ganas merenggutkan jantungnya.

Pengetahuan adalah milik publik dan  hak publik pula untuk memilikinya. Sehingga, tak ada seorang pun berhak untuk menguasainya. Kematian Swartz telah menghentakan dunia akademik, pustakawan, dan aktivis hak digital lainnya hingga banyak menimbulkan dorongan untuk terus mengkampanyekan gerakan  akses terbuka atau Open Acces (OA) seperti mengunggah karya ilmiahnya yang sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2002.

 

Gerakan Akses Terbuka

Rintisannya OA sebenarnya muncul ketika sekelompok ilmuwan mulai mempublikasikan penelitian peer-review secara gratis melalui internet, yang dilakukan setelah Budapest Open Access Initiative (BOAI) pada tahun 2002. BOAI merupakan defenisi  jurnal open akses yang disubsidi lembaga akademik atau lembaga pemeritah tanpa ada hambatan finansial apapun kecuali hambatan internet itu sendiri. Gerakan ini mendapat dukungan sangat luas sebagai reaksi semakin tingginya berlangganan jurnal ilmiah. Salah satu dukungan gerakan ini adalah dengan dibentuknya Directory of Open Acces Journals (DOAJ) oleh pusatakawan Senior, Lars Bjørnshauge dari  Lund University, Swedia. Sejak berdiri tahun 2003,  kini sudah kurang lebih 10.000 jurnal yang masuk dalam direktorinya dari 143 negara pendukung dengan  lebih dari 1,7 juta artikel yang bebas untuk diunduh.

Jurnal OA yang membebaskan publik untuk mengakses tanpa hambatan kecuali internet itu sendiri   bukan tanpa tantangan. Keberadaan jurnal OA tentu bisa menjadi ancaman  bagi jurnal berbayar yang berideologi kapitalis. Namun kritikan pedas yang diterima DOAJ disikapi dengan terus meningkatkan kualitas dan terus mengetatkan proses review baik jurnal yang baru mengajukan aplikasi maupun monitoring bagi jurnal-jurnal yang sudah diinklusi dalam direktorinya. Sehingga, jurnal yang tidak lagi memenuhi kriteria DOAJ akan di-remove dari direktorinya. Dengan bantuan para editor dan associate editor dari berbagai negara untuk menjadi  reviewer nampaknya kualitas jurnal-jurnal itu terus terjaga dan menjadi rujukan favorit para peneliti, kaum akademisi dan masyarakat global umumnya  di masa-masa mendatang.

Sebagai Ideologi

Salah satu pemicu munculnya gerakan OA ini adalah karena ketidakadilan yang terjadi dalam pemanfaatan pengetahuan bagi publik. Tidak adil karena dana-dana yang didapat dari publik untuk penelitian kemudian (termasuk dari negara miskin) hasilnya dimanfaatkan oleh para pemilik jurnal di negara-negara kaya, kemudian meminta publik untuk berlangganan atau membeli. Bukan hanya itu pemilik hak pun (penelitinya) kadang masih harus membayar untuk bisa dimuat. Di sampiung itu, karena ketidakmampuan perpustakaan atau para pengguna untuk mengunduh dan membayar tingginya langganan akhirnya ilmu-lmu itu tak akan berkembang di negara-negara miskin tersebut. Hanya negara yang mampu berlangganan saja yang mampu membeli pengetahuan-pengetahuan baru yang didapat dari penelitian itu. Inilah yang memicu munculnya ideologi tersebut. Ideologi muncul bisa karena ada jurang  ketidakadilan yang sangat lebar itu. Sementara itu ideologi juga selalu  memiliki mimpi yang ingin diwujudkan (utopia). Dalam kasus di atas, impian publik yang dimaksud adalah penggunaan hak-hak publik untuk mendapatkan informasi termasuk pengetahuan yang didapat dari hasil-hasil penelitian terbaru secara bebas. Informasi terutama pengetahuan adalah hak publik karena pengetahuan itulah yang akan membangun peradaban manusia. Jika ‘dibajak’ oleh segelintir orang untuk kepentingan mereka sendiri maka ini dianggap tidak adil. Apalagi, pengetahuan itu didapat dari hasil penelitian yang juga didapat dari dana publik.  Inilah yang selalu diperjuangkan para ‘penganut’ idelogi ini.

Yang membuat para aktivis ‘putus asa’  seperti Swartz ini adalah banyak negara-negara terutama negara-negara berkembang yang dianggap jadi korban ‘pembajakan’  ini. Mereka tidak berdaya dan akhirnya menurut pada pola aturan kaum kapitalis dengan senjata ampuhnya, hak cipta.  Impact factor ilmuwan adalah salah satu ukuran derajat mereka di dunia keilmuan global. Parameter itu termasuk untuk jurnal-jurnal ilmiah yang diakui paling tinggi (bereputasi) adalah yang ber-imfact factor atau terindeks di Thomson Reuter  maupun Scopus. Sangat logis jika artikel yang dimuat di jurnal yang bereputasi itu akan baik karena kualitas dan orginalitas serta formatnya sesuai dengan aturan mereka. Dan tentu saja harus baik karena akan ‘dijual kembali’. Saya hargai sikap pemerintah meluncurkan  program Sinta, sebagai usaha untuk mengakomodasi semua keinginan untuk mengukur kinerja seseorang, jurnal maupun institusi. Sikap akomodatif ini mungkin cukup bijak. Penjelasan Dr. Dimiyati, Dirjen R&D Kemenristekdikti saat kami menghadap sangat akomodatif. Semua prestasi yang didapat dari Scopus, Simlitabmas, IPI, akan terakumulasi dan  akan terukur di program ini. Harapan kami nantinya DOAJ akan menjadi bagian dari sistem ini, walapun secara inplisit DOAJ adalah bagian dalam parameter sebuah jurnal ilmiah untuk meentukan masuk  ke rangking yang mana.

Jadi sebenarnya, beruntunglah sudah ada perhatian dari pemerintah Indonesia yang tidak hanya berkiblat pada jurnal-jurnal yang berbayar dan bereputasi itu. Walaupun Dikti tetap percaya bahwa jurnal internasional bereputasi yang mendapat nilai kredit poin tertinggi (40) adalah yang terindeks di lembaga terindeks seperti disebut di atas. Namun bukan berarti jurnal yang termasuk OA tidak ada yang berstatus internasional bereputasi. Banyak jurnal internasional bereputasi yang juga masuk dalam jurnal OA  yang terindek DOAJ. Kami masih menanti pemerintah Indonesia dalam mengimplementasikan Permenristekdikti No 20 tahun 2017 terutama terkait DOAJ. Di samping itu saya sebagai warga negera Indonesia ikut malu karena kontribusi finansial pemerintah hampir nol kepada DOAJ. Padahal masyarakat Indonesia secara diam-diam  adalah pengguna DOAJ terbesar kedua setelah Amerika serikat. Artinya, masyarakat Indonesia lebih suka jurnal yang gratis untuk mengakses ilmu pengetahuan karena banyak yang tidak mampu untuk berlangganan dan mengakses jurnal bereputasi yang berbayar.

PENGGUNA DOAJ SELURUH DUNIA

image (1)

(Sumber: Wawancara saya dengan Lars Bjørnshauge, Maret 2017)

Penggalakan kampanye OA termasuk jurnal-jurnal sebagai tujuan utama adalah visibilitas, desiminasi secara luas hasil-hasil penelitian terbaru agar semua orang memiliki hak yang sama untuk mengaksesnya tanpa ada hambatan kecuali hambatan sambungan internet itu sendiri. Hambatan itu misalnya biaya langganan, kewajiban membayar sebelum mengunduh, dan lain-lain.

Terimakasih Mr Tom, sahabatku dari Belanda, yang telah menambah dorongan saya dan teman-teman volunteer untuk terus yakin dan berkampanye  memperjuangkan hak-hak masyarakat untuk memiliki ilmu pengetahuan melalui DOAJ.

Suharto, Editor-in-Chief  jurnal Harmonia Unnes dan  Editor  DOAJ, Lund University, Sweden

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s