Mereka Menyebut Kami “Orang Gila”

Di forum-forum nasional, setidaknya dua kali saya mendengar sebutan “orang gila” bagi pengelola jurnal. Yang pertama, saya mendengar ketika mengikuti workshop pengelolaan dan penyuntingan jurnal di Universitas Negeri Malang 12 tahun lalu, dan yang kedua di Universitas Indonesia yang pesertanya khusus pengelola jurnal seni 6 tahun lalu.
Anehnya, mereka tetap tertawa walaupun yang ditertawai adalah dirinya sendiri. Ini menunjukkan mereka bangga dengan “kegilaannya”. Bisa dimaklumi karena mereka adalah kumpulan orang-orang yang mencintai dunianya, dunia tulis-menulis dan pengelolaan jurnal. Mungkin karena imbalan finansial yang tidak memadai, waktu yang harus banyak disediakan, masih ditambah kadang disalahkan kanan-kiri jika ada keterlambatan terbit atau sedikit kesalahan yang menyebabkan mereka mendapat predikat itu. Namun karena “kegilaan mereka”  banyak jurnal di PT yang tetap eksis. Baca lebih lanjut